Thursday, June 15, 2006

Percaya atau Tidak - Vita

Berawal dari sebuah tugas kuliah, akhirnya aku bertemu dengan pria ini. Awalnya aku dan beberapa teman kampusku mendapat tugas untuk melakukan wawancara dengan Bea Cukai berkaitan dengan mata kuliah Ekspor Impor yang ku ambil. Dengan bantuan seorang teman eyangku, akhirnya aku dan teman-temanku dipertemukan dengan beberapa pegawai Bea Cukai yang baru lulus pusdiklat. Akhirnya kami mendapat banyak sekali bantuan dari teman-teman baru kami ini dalam penyelesaian makalah berkaitan dengan Bea Cukai tersebut.
Setelah pertemuan pertama tersebut, ternyata masih ada pertemuan-pertemuan berikutnya yang semakin mempererat hubungan pertemanan kami. Kami sangat senang mempunyai teman-teman baru dengan berbagai macam karakternya.
Namun, satu diantara mereka ada yang membuat hatiku tergerak. Memang pria ini boleh dikatakan paling cuek diantara teman-temannya yang lain. Kalau kita datang ke tempat mereka, dia bisa tuh acuh tak acuh dengan kita-kita. Selain itu, dia juga suka membuat orang tertawa dengan celetukan-celetukannya yang lucu. Jadi, kalo ngobrol dengan dia harus siap-siap dicuekin atau siap-siap tertawa sampai sakit perut.
Akan tetapi, sebenarnya dia adalah lelaki yang punya banyak kelebihan. Dia memiliki hati yang tulus kalau berteman, dia memiliki kejujuran yang sangat tinggi, dia memiliki perasaan yang lemah lembut, dan dia juga pintar. Meskipun, dia juga termasuk orang yang pemalu kalau bertemu dengan lingkungan baru.
Itulah mengapa, semakin hari aku semakin mengaggumi pria ini. Awalnya hanya karena sering telpon dan curhat tentang berbagai masalah. Akhirnya secara tidak langsung aku mengetahui bagaimana sifat aslinya. Dibalik kecuekan dan rasa malunya itu, dia memiliki hati yang sungguh sangat baik.
Akhirnya, kami pun sepakat untuk memperteguh hubungan ini. Betapa bahagianya hatiku saat itu.
Berjalannya waktu, semakin banyak yang kami lewati. Suka dan duka kami lewati bersama. Pada awalnya, aku susah menerima sikapnya yang terlalu cuek itu. Sikap seakan-akan tidak punya pacar. Bagaimana tidak, kita khan sekarang sudah berkomitmen untuk pacaran, namun sikapnya masih saja sama seperti yang dulu. Kalau ingat telpon, kalau nda yach nda telpon. Oh, please, betapa khawatirnya aku pada awal-awal dulu. Selalu berpikir, lagi ngapain yah, dia. Kemana aja hari ini. Sempet sih, aku marah dan sedikit kesal dengan sikap itu. Namun, akhirnya justru aku yang merasa tidak enak. Memang tidak seharusnya aku berpikir yang bukan-bukan tentang dia. Memang dia cuek dan itu sudah ku ketahui maka lebih baik berpikirlah positif. Nah, sejak itu aku mulai belajar memahami keadaan seperti itu dan belajar berpikir positif. Kekuatan rasa cintaku dan sayangku membuat aku untuk terus belajar memahami dirinya.
Well, sebenarnya itu bukan hal yang susah, namun terkadang kecurigaan itu datang begitu saja. Maka, di awal-awal kemarahanku dia selalu berkata cobalah untuk terus berpikir positif jangan curiga terus serta percaya saja bahwa dia memang tidak berbuat yang bukan-bukan. Kepercayaanku padanya memang ada dasarnya. Memang dia tidak pernah berbuat macam-macam dan segala hal selalu diceritakan padaku. Meski telat ceritanya, namun aku selalu tahu dia kemana, pergi dengan siapa, ngapain aja. Maka sejak itu aku mulai belajar berpikir bahwa dia punya kehidupan lain selain hanya telpon dan bertemu dengan aku atau mendengar cerita-cerita aku. Akhirnya saat ini, aku sudah mulai terbiasa dengan sikapnya yang seperti itu. Kalau aku kangen dan butuh ngobrol aku akan telpon dia. Namun, jika tidak ditelpon pun aku tidak akan mempermasalahkan lagi. Buat aku, hubungan seperti ini sebenarnya layak dilakukan. Hubungan yang penuh kecurigaan tentu tidak akan berjalan mulus. Aku selalu menerapkan pada diriku bahwa percayalah pada dia. Berikan kebebasan kepada dia karena tidak munafik aku pun juga butuh kebebasan. Dengan kita percaya kepadanya maka mudah-mudahan dia pun akan percaya dengan aku. Memang tidak juga dapat disalahkan jika sikap ku yang begitu menerima dia karena perasaan sayangku begitu dalam. Namun, begitulah adanya. Aku masih ingin bersama dia dan melewati hari-hari bersama dia.
Namun suatu masalah besar sempat menghiasi hubungan ini ketika dia sempat dekat dengan wanita lain. Aku sebenarnya tidak masalah dia mau dekat dengan siapa saja karena selama ini pun banyak wanita yang dekat dengan dia. Aku amat memaklumi dia mau dekat dengan wanita manapun. Seperti aku bilang kebebasan itu memang perlu. Namun, Aku marah karena dia seakan-akan menutupi hubungannya dengan wanita ini. Awalnya, dia cerita tentang wanita ini yang sering SMS atau telpon dia, namun lama-lama seringnya mereka SMS membuatku geram. Apalagi ketika aku tahu dan sengaja membaca SMSnya. Betapa aku semakin geram karena SMSnya begitu romantis. Bahkan dia bisa mengirim SMS yang sama kepada dia dan kepada aku. What? Inilah awal kemarahanku. Betapa saat itu, aku begitu sakit hati, begitu marah. Luluh sudah semua kepercayaanku. Hampir saja kubilang lebih baik akhiri saja hubungan ini.
Kembali perasaan sayangku membuat aku sadar untuk tidak begitu saja meledak-ledak karena amarah. Jadi, kuputuskan untuk mengatakan semua keluh kesahku dan kekecewaanku saat itu. Memang, saat itu aku marah besar. Namun, aku juga berusaha untuk mendengarkan alasan-alasan dia mengapa bersikap begitu.
Well, akhirnya aku menyadari bahwa aku dan dia pun masih banyak kekurangan. Aku yang terlalu sensitif hingga kadang-kadang menyebalkan buat dia. Dia yang terlalu cuek hingga kadang-kadang menyebalkan buat aku. Memang sikap baik dan ramah yang ada dalam dirinya itu terkadang dapat membuat bumerang buat dirinya sendiri. Sehingga saat itu, aku berkata belajarlah bersikap tegas terhadap suatu hal hingga orang lain akan lebih mengerti keinginanmu.
Setelah peristiwa tersebut, aku berusaha membangun kembali kepercayaanku yang pernah runtuh. Aku harus mulai kembali memahami watak dia seperti apa. Aku harus meluluhlantakan tembok-tembok kecurigaan. Memang berat, namun aku harus kembali berusaha demi keutuhan hubungan ini.
Hingga saat ini, aku pun sudah semakin dapat memahami apa dan bagaimana karakter dia. Perbedaan itu memang selalu ada dalam sebuah hubungan kasih namun bukan untuk saling menyalahi melainkan untuk dipahami sehingga menimbulkan saling perngertian dan hubungan yang indah.
Mengenal dia, membuat aku terus belajar mengenai makna hidup dan cinta sesungguhnya. Membuat aku bahagia menikmati hari-hariku. Membuat aku belajar untuk terus berpikir positif terhadap segala hal dan belajar untuk memulai segala hal dengan penuh keterbukaan.
Terima kasih telah mengajarkanku tentang segala hal. Terima kasih atas semua yang telah kau berikan untukku. Terima kasih telah memberiku banyak motivasi.(sm)


Dedicated to my beloved guy.

No comments:

Post a Comment