Kapan seseorang boleh berhenti memaafkan? Kata Yesus Kristus, tujuh puluh kali tujuh puluh kali. Ku bukan seorang pandai matematika, memang, tapi menurut perhitungan hanya berujung pada satu kesimpulan yaitu tidak terbatas. Kalau ditipu milyaran rupiah, kalau dilecehkan bahkan diperkosa, kalau dikhianati kekasih, sampai kapan tidak terbatas bisa didefinisikan lagi....
Aku takkan menyangkal kemanusiaanku. Kalau ditipu seratus ribu rupiah, jangankan maaf akan kukejar penipu itu hingga akhir dunia bahkan akan kutuntut kerugianku beserta bunga-bunganya yang super mahal. Kalau dilecehkan atau diperkosa, dijawab akan memperkosa balik, itu akan menghina keperempuananku dan harga diriku, tapi akan kukeluarkan sumpah serapah dari hati dan berdoa sepenuh hati sekaligus menuntut kematian baginya, sadis?! Aku, seorang perempuan, akan menyerahkannya sesuai dan seturut dengan kemauanku bukan kemaluanmu! Kalau dikhianati kekasih, ehm... kukhianati dengan “teman tapi mesra” yang telah terjalin lebih dari masa pacaranku! Ini adalah ode kebencian dari seorang yang sulit mengucapkan kata maaf seperti diriku... Kalau kata Tao Ming Tse (yang diperankan dengan sangat menawan oleh Jerry Yan), “kalau bisa minta maaf, buat apa ada polisi?!”
Sayang sekali, polisi tidak berwenang dalam kasusku ini. Setiap kumelihat serasa ada kilatan neraka dan gairah membenci tak terkira. Bukan pelajaran moral yang baik kurasa bagi generasi harapan bangsa seperti diriku ini...
Hari pertama,
Aku masih bisa tertawa dan bertukar canda dengannya saat dunia masih utuh. Kami tak terpisahkan bahkan mungkin sejak takdir kami memang belum pernah bertemu. Bayanganku pun mungkin merasa dengki melihat ikatan kami.... Tak terpisahkan bahkan berpisah jalan takkan lepas dari genggaman.
Hari kedua,
Aku menangis bersamanya... Kalau sudah begini, langit pun akan berduka bersama kami. Kepalaku selalu tertunduk saat mengeluarkan airmata, nista terisak seperti anak kecil. Di hadapannya, aku tegakkan kepala dan bercucuran airmata, seperti anak kecil kehilangan orang tuanya. Tak hina kurasa hanya hampa.
Hari ketiga
Aku lemparkan segala benda kepadanya. Walau tak maksud mengenai, tetap berniat dia terluka. Hanya luka ringan ternyata... Tapi, dari diriku. Dia pun tetap tegar berdiri. Aku siap menerima lemparan benda darinya, tapi... hening... Aku berpikir mungkin sudah tak ada benda untuk dilempar lagi.
Hari keempat
Kami saling terdiam. Langit sedang tidak berduka, amarah tidak sedang meluap, namun senyum tak saling terlempar. Tetap terdiam. Terus terdiam. Hening. Sepi. Hampa.
Hari kelima
Hari keenam
Hari ketujuh
Aku bisa teruskan menulis tapi aku tidak tahu kelanjutannya. Kata maafkah yang seharusnya terlontar pada hari-hari tersebut??? Kosong tak berarti rela, hampa tak berarti sedia. Kata puitis dari mulutku yang tunduk pada kekerasan hatiku.
Kami pun berhenti, entah di mana, entah sampai kapan, entah kenapa...
Aku takkan menyangkal kemanusiaanku, setiap disakiti aku akan tetap meradang tak memaafkan.
Polisi mana yang berhak ikut campur? Urusan maling ayam saja sudah bikin kisruh malah ditambah dengan persoalan seorang yang tidak mengenal kosakata maaf.
Aku bukan utusan dari surga, ternyata. Tak satu kesabaran dan kebijaksanaan bisa menenggelamkan bara di hati ini. Walau aku harusnya khawatir, tak cuma hati tapi pikiran.
Waktu tidak pernah direnggut dari kami, kehidupan tidak pernah diambil dari kami. Begitu erat bergandengan tangan hingga lepas begitu saja. Bahkan tanpa kami sadari. Atau memang sudah demikian adanya?
Saat kulihatnya tidak semudah melempar benda lagi tapi kemurkaan atas ketidaktahuan, kepedihan atas kewajaran. Dunia masih utuh tapi bayangan kami pun terpisah...
Kisah kami tak seindah Romi dan Yuli atau setragis Cinderela tapi penuh makna. Aku tak sadar telah kehilangan tangannya dan dia pun berpaling.... Kami tak pernah terpisah, tak pernah benar-benar terpisah atau memang tak pernah menyatu. Kisahku bukanlah garis maya tapi tak pernah nyata. Bila kutanggalkan kemanusiaanku, apa bisa kupadamkan kilatan dosa ini? Apa bisa kutenangkan amukan emosi ini? Maafkah yang kan kuberi? Maafkah yang membuatku kembali menjadi manusia dan bukan manusia?
Sungguh bukan pelajaran moral yang biasa tapi tidak luar biasa. Kami sungguh berhenti tapi tidak aku dan dia. Harus kutempatkan di mana maaf itu? Pada aku atau dia atau kami?
(Fidelis Eka Satriastanti)
Friday, June 16, 2006
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment